INSTANISASI INTELEKTUAL

2 September 51 tahun lalu menjadi pertanda baik bagi perkembangan pendidikan Aceh. Setelah mengalami pasang surut dalam penyusunannya, sebuah universitas resmi digalang dengan bantuan dari Yayasan Dana Kesejahteraan Aceh (YDKA) dan Komisi Perencana dan Pencipta Kota Pelajar/ Mahasiswa yang dicanangkan oleh penguasa perang D.I. Aceh.

Tekad bulat itu dikukuhkan dengan peletakan batu pertama kota pelajar/mahasiswa (kopelma) Darussalam pada 17 Agustus 1958. Setahun setelah itu, 2 september 1959 diresmikanlah jurusan pertama dari universitas Syiah Kuala. Pembukaan jurusan ekonomi diiringi dengan pembukaan selubung Tugu Darussalam oleh Soekarno menjadi cikal bakal kebangkitan pendidikan Aceh.

Hakikatnya, program kebangkitan pendidikan Aceh itu adalah mengulang sejarah masa lampau. Aceh pernah menjadi pusat pengetahuan nusantara, bahkan sangat masyhur di Asia Tenggara. Ketika kesultanan Aceh pada era sultan Iskandar Muda, berbondong-bondong pelajar Asia menuju Aceh. Berikutnya Islam menyebar ke berbagai belahan, membawa nama Aceh sebagai pusat peradaban.

Kini setelah dua era itu terlewati, lumrah jika kita sedikit merenung sejauh mana pendidikan berhasil merubah tatanan kehidupan menuju arah yang progresif. Atau bahkan perkembangan institusi pendidikan, penambahan jurusan di berbagai perguruan tinggi, pembangunan infrastruktur pendidikan yang menggurita justru membuat Aceh semakin terbelakang. Ironis.

Sebelum mempertanyakan kemana IAIN atau Unsyiah yang selama ini menjadi cikal bakal pendidikan Aceh, ada baiknya kita melakukan sebuah muhasabah bersama. Apakah kita sudah berbuat optimal untuk perkembangan pendidikan itu sendiri, atau masih berjalan di tempat. Karena pada dasarnya, kemunduran pendidikan Aceh adalah atas campur tangan kita sendiri, tanpa melupakan elemen-elemen penting dalam pengambil kebijakan.

Ramadhan yang kini menuju garis finis adalah kompleksitas dari sebuah gerakan pendidikan. Membaca ramadhan adalah memaknai pendidikan secara utuh. Ramadhan yang bertujuan membentuk insan bertakwa adalah puncak dari pembentukan karakter dalam diri manusia. Tak salah jika Martin Luther King Jr pernah mengutip, “intellegenci plus character is the goal of true education.”

Sangat miris melihat masyarakat yang berdiri di atas pilar yang kokoh-Islam,- justru terbengkalai dalam menata diri. Lihat bagaimana ramadhan mengajari manusia makna sebuah kejujuran. Ibadah puasa mengandung nilai kejujuran yang adiluhung. Siapa yang mengetahui seseorang benar-benar berpuasa. Dalam keadaan yang normal, kita tidak dapat membedakan antara orang yang berpuasa atau tidak.

Puasa adalah kontak batin dan proses jujur antara Tuhan dan hamba. Maka sangat pantas jika nilai pelaksanaan puasa hanya bagi Allah, dan dari Allah balasannya pula. Dalam jangkauan yang lebih luas, dapat kita asumsikan bahwa makna huruf shad (yang terdapat dalam kata shaum) bisa bermakna shabru (sabar) atau shidqi (kejujuran).

Salah satu penyakit pendidikan yang menjamur saat ini adalah hilangnya orang-orang yang sabar dalam menuntut ilmu. “Instanisasi” pembelajaran lebih disukai, walaupun nihil nilai keselarasan. Pendidikan ibarat pasar, dimana cepat atau siapa yang menjajakannya dengan lebih murah maka ia akan laku, tidak peduli kepada kualitas pendidikan itu sendiri.

Padahal dalam usaha pembangkitan (kalau boleh diasumsikan sebagai renaissance) pendidikan di Aceh, telah dibentuk usaha nyata yang tercantum dalam undang-undang No. 11 tahun 2006 tentang pemerintah Aceh yang kemudian dikejawantahkan dalam pasal 15 bab V ayat 2, dinyatakan bahwa pemerintah Aceh wajib menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan syariat Islam.

Searah dengan keputusan tersebut, disusun pula bab XXX pasal 215 sampai 220 yang mengatur teknis penyelenggaraan pendidikan Aceh. sebagai pijakan dasar, di dalam pasal 205 dinyatakan (1) pendidikan yang diselenggarakan di Aceh merupakan satu kesatuan dengan pendidikan nasional yang disesuaikan dengan karakteristik dan potensi masyarakat setempat.(2) Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan segala komponen yang ada, termasuk peran serta perempuan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

Dari berbagai poin terkait pengembangan pendidikan, unsur Islam menjadi hal yang sangat sering dibahas. Hal ini dipandang sangat urgen, mengingat masyarakat Aceh sangat luluh dengan nilai keislaman yang juga sudah mulai mengakar dalam kearifan budaya lokal mayarakat Aceh. pengabaian nilai Islam yang diciptakan oleh pendidikan berskala modern justru menjadi bumerang kehancuran pendidikan akhir-akhir ini.

Dalam proses pelaksanaan pendidikan yang berkarakter, dibutuhkan usaha jitu yang melingkupi rasa sabar. Hal ini juga diwasiatkan oleh Imam Syafi’i yang menjadikan sabar sebagai salah satu syarat ilmu yang bermanfaat.

Pendidikan ramadhan juga mengajari rasa wara’ (rendah hati) –huruf wau yang dikandung dalam kata shaumu (puasa).- dalam kaitannya dengan ibadah puasa, kerendahan hati mengajari manusia bahwa nilai manusia di hadapan Allah adalah sama. Sikap ini menghindari rasa sombong dan takabur yang dapat meluruhkan nilai luhur dari pendidikan.

Lalu apakah institusi pendidikan sudah berhasil menciptakan pendidikan yang membumi. Atau pendidikan malah justru semakin menggelembungkan rasa superioritas di kalangan penuntut ilmu. Kenyataan terakhir ini lebih kentara terasa, melihat besarnya jurang antara intelektual dengan masyarakat awam hari ini. Kaum intelektual seolah bukan bagian dari masyarakat. Pengembangan kemakmuran pendidikan lebih kepada kesejahteraan pribadi. Tanpa menciptakan sebuah lingkungan sosial yang harmonis, dimana terjadi kesinambungan utuh antara orang yang berpendidikan dan masyarakat awam sebagai objek pendidikan.

Pemberdayaan masyarakat dalam menunjang pendidikan merupakan jawaban atas pasal 216 dan 217 bab V dengan segala poinya. Pemerataan pendidikan dan tanggung jawab moral yang diemban oleh intelektual merupakan kunci dari keberhasilan pendidikan.

Selanjutnya, sebagai solusi konkrit untuk mewujudkan sebuah pendidikan yang mumpuni terangkum dalam pasal 218 sampai 220. Harus ada sinergisitas antara setiap komponen untuk kembali mewujudkan kejayaan pendidikan. Tidak hanya pada tataran retorika, tetapi harus menyeluruh dari lingkup terkecil. Hal ini adalah implementasi dari sifat mutqin (keteguhan/ komitmen) sebagai akar dari huruf mim dalam kata shaum.

Puasa adalah bulan pengkaderan diri untuk bersikap pada bulan berikutnya. Puasa mengajari kita banyak hal, peka terhadap sesama, tidak berbohong baik terlihat maupun ditempat sepi, kesejajaran hidup antar masyarakat dalam berbagai strata kehidupan dan cinta kepada amal kebaikan. Oleh karena itu, akhir puasa harus menjadi momen bagi kita untuk menuai segala pendidikan yang telah kita raih selama sebulan penuh. Berhasilkan kita atau semakin tertinggal.

Keberadaan sebuah pendidikan kokoh terhadap segala tantangan globalisasi adalah jawaban dari kesemrawutan pendidikan selama ini. Di samping itu, usaha untuk mengelola pendidikan yang sadar fungsi dan peduli diri adalah jalan keluar yang selama ini terus menghantui dunia pendidikan kita. Hasil akhir dari penyadaran hakikat pendidikan melalui pendidikan ramadhan adalah tidak ada sikap saling menyalahkan. Sebelum bertanya kemana larinya IAIN dan Unsyiah dari keruntuhan pendidikan kita, ada baiknya kita mempertanyakan dimana posisi kita dalam keruntuhan pendidikan Aceh.

One thought on “INSTANISASI INTELEKTUAL

  1. assalamu’alaikum
    humm..mungkin ga nyambung,,tp gpp..tny donk..
    kalo ramadha tiba,,kira2..menurut antum,,sekolah2 perlu diliburkan tidak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s