Destinasi Cinta

Ramadhan kini telah berakhir, usianya sudah senja bahkan sudah tutup mata. Entah tahun depan kita dapat bertatap muka lagi dengan bulan penuh kemulian ini, semua serba misteri. Tak tertebak, karena usia ramadhan dan usia kita berada dalam ilmu Allah, pengetahuan yang tak didahului oleh kebodohan.

Kini, pendidikan ramadhan telah ditutup. Ijazah bergelar takwa sudah disiapkan. Akan tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah, berapa banyak siswa ramadhan yang diyudisium dengan gelar yang memuaskan.

Ibaratnya sebuah jalur pendidikan. Maka salah besar ketika kita menganggap I syawal sebagai akhir dari pendidikan ramadhan kita. Hari raya adalah awal kita membangun pondasi, kemana kita akan melangkah setahun ke depan. Lebaran juga bermakna sebagai langkah awal dari sekian banyak mimpi kita selama ramadhan.

Sejauh mana kita bisa mengimplementasikan ramadhan dalam sebelas bulan berikutnya adalah menjadi acuan sejauh mana ramadhan membentuk kepribadian. Puasa adalah training bagi kita, sebagai pusat pengolahan dan pembelajaran untuk menghadapi bulan-bulan selanjutnya.

Alkisah seorang anak di masa rasulullah menangis lirih, padahal ketika itu teman-temannya sedang menikmati hari raya. Lantas rasul mendekati dan bertanya, “apa gerangan yang membuat engkau begitu bersedih wahai ananda?” masih dalam tangis yang terus berkelanjutan, sang anak menjawab,”ayahku telah syahid di medan perang wahai rasulullah, maka kepada siapa aku akan mengadu tentang nasibku kini?

Sedih, sebuah perasaan lumrah yang lahir dari seorang anak kecil. Ternyata hari raya tidak bisa menggantikan keberadaan orang tuanya. Yang sangat menarik adalah ucapan rasulullah setelah itu, “jangan lagi engkau bersedih, mulai sekarang anggaplah aku ayahmu dan Aisyah ummul mukminin sebagai ibumu.” Lalu rasulullah membawa anak tersebut ke rumah beliau, memperlakukannya layaknya anak kandung sendiri.

Inilah contoh dari ramadhan yang mendidik. Ramadhan telah benar-benar mendidik kepekaan sosial. Menganggap bahwa kehidupan hanya sebagai punca amanah, dan akan diminta pertanggung jawaban terhadap orang orang di sekeliling kita. Dalam kisah yang lain, sosok Umar yang sangat memperhatikan keadaan masyarakat ketika beliau menjadi khalifah adalah salah satu bukti nyata terkait kewajiban menganyomi lingkungan sosial. Tidak apatis apalagi berlaku khianat.

Ramadhan hakikatnya mendidik kepekaan sosial. Hal ini sendiri tercermin dari perintah pelaksanaan puasa yang tidak membatasi kepada golongan tertentu saja. Keadaan orang yang berpuasa benar benar menjadi tauladan, dimana tidak ada beda puasa seorang yang kaya dengan rakyat jelata. Peningkatan kualitas diri dan penempaan jiwa rabbani justru menjadi titik keistimewaan bagi orang yang berpuasa.

Kini, setelah beganti pekan kita berpuasa, sampailah di saat saat genting yang menentukan. Sekarang adalah masanya pembuktian, sejauh mana sudah ramadhan membawa manusia kepada cahaya dan pengenalan diri dan ilahi (makrifah).

Selama ramadhan, jika siang telah diliputi oleh berbagai lipatan pahala, manusia mendidik nafsunya dengan ketentuan ramadhan. Maka rahasia Allah menjadikan malam sebagai waktu lailatul qadar adalah sebagai ujian pertama, sejauh mana manusia dapat menjaga nafsu dan syahwatnya selama malam ramadhan, malam dimana kita tak lagi berpuasa.

Sejauh mana kita mampu memberdayakan ramadhan, maka sejauh itu pula buah yang akan kita petik ketika bulan ini akan berlalu. Ramadhan terkadang menjadi oase, akan tetapi tak jarang menjadi jurang. Kualitas keimanan akan sangat menentukan kemana arah ramadhan yang telah kita jalankan.

Pengembaraan mesti menentukan destinasi (tujuan). Kita harus punya maping proyek perjalanan ramadhan. Agar hati tak lari ke arah tak menentu. Agar jiwa hanya terpatri kepada Sang Pencipta. Benarkah jalur ramadhan yang selama ini kita tempuh. Semuanya akan terjawab pada kualitas ibadah kita di titik-titik akhir menuju pemberhentian puasa. Maka luluskah kita atau malah harus mengulang tahun depan, itupun kalau masih diberi kesempatan. Maka benarlah sabda baginda nabi,” barang siapa yang menghidupkan malam ramadhan dengan penuh ketakwaan, maka Allah ampunkan baginya dosa yang telah lalu dan Allah lenyapkan dosa yang akan datang.” Sungguh, petunjuk kebenaran itu hanya ada di jalan ini, jalan yang Allah ridhai.
oleh : Zahrul Bawady
[i] Mahasiswa Al-Azhar Kairo, Pengurus Ikatan Penulis Santri Aceh Timur-Tengah.(STBHA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s